Jam pulang pun akhirnya tiba, aku bergegas pulang menuju rumah dan membersihkan rumah sebelum ibuku memarahiku lagi. Aku juga mengobati luka di wajahku agar tak terlihat oleh ibu dan ayahku. Namun ketika hendak kembali ke kamar aku berpapasan dengan ayahku namun ia sama sekali tak peduli melihat apa yang terjadi denganku. Aku pun tak begitu memikirkannya karena beruntung aku tak mendapatkan masalah dengan ayah ibuku karena lukaku. Aku melanjutkan dengan membereskan kamarku dan mengerjakan pr ku , namun karena begitu lelah aku pun tertidur bahkan aku sampai lupa untuk makan malam.
Ke esekokan harinya aku terbangun, aku yang sadar karena ketiduran langsung kembali bergegas pergi ke sekolah karena begitu semangat hingga aku lupa untuk sarapan. Sepanjang perjalanan aku tak melihat robi ataupun teman temannya, terkadang aku berfikiran negatif bahwa robi sedang menyiapkan sesuatu yang buruk untu ku, namun saat ini aku harus fokus dengan apa yang sedang aku lakukan.
Bel kelas berbunyi dan aku belajar seperti biasa tanpa ada masalah, walau terkadang aku melamun dan melihat sofi yang sedang belajar di depanku, aku berusaha untuk melupakan kejadian kemarin agar aku bisa lebih fokus menjalani hari hariku tanpa adanya rasa sakit di hati lagi, walaupun rasanya sangat berat namun akhirnya aku bisa.
Tak terasa bel istirahat sudah berbunyi, aku langsung bergegas keatas balkon untuk menemui rendy, namun setelah lama menunggu rendy tak kunjung datang, hingga bel istirahat kedua aku kembali pergi keatas lagi namun dia masih tidak ada. lalu aku pergi mencari rendy ke kelasnya dan mengetahui bahwa rendy tak hadir ke sekolah. Aku merasa cemas karena dan berfikiran negatif bahwa telah terjadi sesuatu dengan rendy "apa jangan jangan robi telah mencelakai rendy" dalam hatiku.
Aku berusaha untuk mencari tau dimana rumah rendy dan bertanya ke teman kelas dia. namun tak ada yang tau dimana dan ketika aku bertanya kepada sofi mengenai rumah rendy, sofi menjawab bahwa rendy menyembunyikan identitas dimana ia tinggal, bahkan sofi mengatakan bahwa rendy mengisi alamat palsu ketika ia mendaftar ke sekolah.
Ini membuatku heran, ada apa sebenarnya, mengapa rendy melakukan itu, apa yang ia tutupi sebenarnya. Tak lama bel pulangpun tiba, aku merasa sedikit kecewa karena rendy tak datang dan khawatir mengenai rendy. Namun ketika sampai didepan gerbang sekolah rendy sudah ada menungguku dengan pakaian tertutup, menggunakan topi, kaos putih juga jaket.
"Oi alvin, mau kemana?" Sahut rendy. "Lah sejak kapan kau ada disini, kenapa kau gak masuk sekolah tadi?" Jawabku dengan kaget.
"Yeah tadi aku ada urusan mendadak jadi gak bisa datang, maaf ya gak ngabarin mu kemarin, ayok kita ketempat latihan sebelum ada teman kelasku yang melihat".
"Hmm iya, dimana tempatnya?".
"Haha kau akan tau nanti, tempatnya gak jauh dari sini. ayok ikuti aku,".
Kamipun bergegas pergi. Dan ternyata tempat itu ada tepat dibelakang sekolah.
"Wah aku baru tau ada tempat rahasia lagi dibelakang sekolah, bagaimana kau bisa tau rend?"ujar ku
"Yeah tempatnya tersembunyi, sepi, tak ada orang yang tau tempat ini. Aku tau tempat ini secara tak sengaja ketika aku terjatuh dari atas balkon dan mendarat kesini, haha aneh kan?" Jawab rendy sambil tertawa ringan.
"Ha? Jatuh dari atas balkon? Yang benar saja, tinggi dari bawah sini ke balkon 5 lantai, dan kau jatuh dari atas sana tanpa satupun luka?, Kau bercanda?".
"Haha seriusan, saat itu sedang hujan dan aku mendarat dengan pas dibawah karena tanahnya lembek menjadi lumpur". Jawab rendy sambil membuka bajunya.
Saat aku melihat tubuh rendy itu sangat mengagumkan. " Waw rend bagaimana kau bisa memiliki badan dengan perut sixpack seperti itu". "Yah tentu saja dengan latihan keras, aku juga bisa seperti ini kok, ayo kita mulai dengan pemanasan dan gerakan dasar." Jawab rendy.
Aku dan rendy kemudian berlatih bersama, rendy mengajari banyak hal dan semua yang ia bisa kepadaku, berawal dari dasar seperti push up, lari, hingga gerakan lanjut seperti menendang, memukul, dan menangkis. awalnya fisikku terlalu lemah untuk bisa menyeimbangi latihan yang diberikan rendy namun seiring waktu aku mulai terbiasa. Begitu seterusnya hingga malam pun tiba. "Aku pikir sudah cukup untuk latihan hari ini vin. Besok kita lanjut lagi ya". "Yah padahal aku masih semangat rend". "Haha semangat boleh aja vin, tapi lihat juga tubuhmu sudah lelah, kau juga belum makan kan? Bukan hanya latihan saja yang penting tapi istirahat dan makan pun sama pentingnya, ayok kita pulang".
Aku dan Rendy pun pulang, namun rendy masih tetap tidak ingin diketahui dimana ia tinggal. Setelah sampai rumah ibuku bertanya dan memarahiku " Heh dari mana aja kau, jam segini baru sampai rumah, piring belum dicuci, rumah sama kamar berantakan. ". Namun aku tak menghiraukan perkataan ibu dan langsung mengerjakan semuanya dengan senang hati. Setelah aku selesai mengerjakan semuanya, dan bersiap untuk tidur. Aku sempat melamun sejenak, dan mulai menyadari semenjak kehadiran rendy, hidupku mulai terasa berarti, aku sudah tak pernah merasa kesepian. Luka sayatan didalam hatiku perlahan menghilang. Stelah sekian lama terakhir ketika aku masih berusia 7 tahun aku merasakan bahagia. Dan kini aku merasakannya kembali. Namun aku sadar jika ada pertemuan maka akan ada perpisahan. Aku tak tau akan seperti apa hidupku jika aku akan berpisah dengan rendy. Namun aku tak perlu mengkhawatirkannya sekarang, karena aku merasa itu tak mungkin, rendy sudah berjanji kalau dia akan selalu bersamaku suka atau duka.
Aku pun kembali tidur dengan perasaan bahagia untuk kesekian kalinya, dan menjalani hari hari dengan cara yang berbeda. Aku mulai mencoba untuk berinteraksi dengan teman teman kelasku, dan juga guruku, dan akhirnya aku mempunyai sedikit hubungan baik dengan mereka walau tak dekat dan bagiku itu sudah cukup. Robi dan temannya pun sudah tak pernah terlihat lagi dan aku dengar kalau mereka akan di drop out dari sekolah karena sudah tak pernah hadir lagi, itu membuat ku semakin nyaman dan tenang.
Hari hari berlatih bersama Rendy pun semakin menyenangkan. Dengan penuh tekad untuk menjadi kuat aku mengalami banyak perkembangan. Tubuhku yang kurus kering perlahan mulai berubah bentuk menjadi padat dan berbentuk. wajahku yang dulunya hitam kusam dan tak ada raut senyuman, kini menjadi cerah dengan hampir selalu ada senyuman disetiap waktunya. Dan aku mulai bahagia menjalani kehidupan baruku yang sekarang.