Aku terbangun dari tidur malam ku, dan aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku sadar tadi malam aku tidur dengan nyenyak tanpa adanya mimpi buruk. Suasana hatiku masih bahagia seperti kemarin. Aku pikir aku akan mengawali hari ini dengan penuh bahagia. Sekarang masih jam 6, karena hari ini jadwal piket kelasku aku harus bergegas pergi lebih cepat. Aku pun kembali pergi bersekolah, sejauh ini masih baik baik saja namun sesampainya disekolah aku melihat robi dan gengnya sedang berkumpul di lorong.
Perasaanku yang sangat bahagia sebelumya berubah menjadi rasa takut dan benci seperti biasanya. Aku tak tau harus berjalan maju atau kembali mundur, namun aku teringat dengan perkataan rendy mengenai sebuah tekad. Tanpa pikir panjang aku langsung berjalan maju dan berjalan tanpa melihat mereka sebisa mungkin untuk menghindari hal yang aku benci. Namun baru saja satu langkah aku melewati mereka baju belakangku langsung ditarik dan tubuhku dilempar ke tembok, " ehh mau kemana kau, kok gak kau anggap kami ada disini" sahut robi dan temannya. Aku sudah tau hal ini akan terjadi. Sekarang masih sangat pagi dan belum ada guru yang datang. Aku pasrah dan sadar tak akan ada yang membantuku melewati masalah ini, aku hanya bisa tertunduk sambil memejamkan mata.
Namun seketika terdengar suara rendy " Hei kalian bajingan, kalian lepasin alvin temanku! mau duel 1 lawan 1, Maju kalian sini!". Sontak aku kaget mendengar perkataan ia itu. Namun robi tak tinggal diam "Kau berkawan sama manusia sampah seperti ini? Hah? Gak guna, dia itu cuman pesuruh yang sering aku jadikan samsak tinju". Namun dengan lantangnya rendy "Dia adalah temanku, dia bukan sampah. Kau yang sampah". Seketika robi dan temannya menjauhiku dan berjalan mendekati rendy. "Kau mau ku hajar hah? Mau kami bikin luka dalam apa luka luar kepalamu?". Kemudian aku bangkit "sudah rendy biarkan saja, bagusan kita lari ke depan kantor guru mereka gak akan berani mendekat. Mereka berempat terlalu banyak, buka tandingan mu". Aku benar benar tak ingin temanku satu satunya terluka karena diriku, aku takut ia akan menjadi benci kepadaku, aku terus berusaha menghentikan rendy namun itu percuma.
Akhirnya pertarungan tak terhindarkan rendy melawan robi dan 3 temannya, awalnya rendy berhasil memukul roby dan 1 temannya hingga matanya lebam dan terjatuh namun kedua teman roby memukuli rendy secara bersamaan hingga rendy tumbang dan terjatuh di hadapanku dengan pipi dan kening yang penuh darah. Aku tak tau harus berbuat apa, aku terlalu taku untuk bangkit dan melawan robi, namun aku merasa hancur dan menganggap diriku pengecut melihat temanku dihajar habis habisan. Robi terus menendang rendy hingga ia benar benar jatuh tergeletak.
"Sudah cukup.. hentikan!.. Kenapa rend.. kenapa kau mau berbuat sampai sejauh ini..kau gak punya alasan untuk bertarung sama mereka.. kenapa!?". Lalu rendy bangkit dengan wajahnya yang penuh darah dan melihatku sambil tersenyum. "Kau tau alvin? Yang membuat kita menjadi lebih kuat adalah ketika kita ingin melindungi seseorang yang berharga bagi kita". Rendy bangkit dan kembali memukul roby dengan sisa tenaganya.
Mendengar perkataan rendy aku terdiam sesaat dan kemudian tersadar. "Kau benar rend, kini aku mempunyai seseorang yang berharga dalam hidupku yaitu kau, dan kini aku punya alasan untuk bertarung habis habisan denganmu". Aku pun bangkit dan berdiri, aku sadar jika aku memukul dan menendang badan mereka itu tak akan ada rasanya karena aku terlalu lemah.
Namun jika aku menyerang titik vital mereka mungkin itu akan berpengaruh. Aku pun mengambil abu bercampur pasir dilantai. Lalu aku maju dan melempar abu itu tepat dimata robi, dan disusul dengan pukulanku tepat dimata robi secara beruntun. Robi yang tumbang langsung dihajar rendy habis habisan begitu juga denganku. Walau kami berduapun harus menerima pukulan dari teman teman robi.
Melihat robi yang tak berkutik, merenges kesakitan, ia kemudian bangkit dan lari terpincang pincang. Melihat robi yang sudah lari, teman temannya pun berhenti memukuli kami dan ikut pergi bersama robi sambil mengancam akan kembali lagi nanti.
Robi dan temannya memang sudah pergi namun aku tidak menanggap ini adalah sebuah kemenangan. Melihat rendy dengan luka yang begitu parah aku langsung merangkulnya menuju uks. Dengan rasa bersalah karena telah melibatkan rendy kedalam masalahku "Maaf ya rend barusan aku gak langsung bangkit dan membantumu, aku memang gak berguna dan pengecut". Namun rendy masih bisa tersenyum kepadaku dengan wajah yang penuh lebam dan darah "Mulai sekarang kita adalah teman, apapun yang terjadi diantara kita. Kita harus selalu bersama dan menghadapinya".
Aku sangat terharu hingga meneteskan air mata dihadapannya "Makasih ya rend". Sambil mengelap luka diwajah rendy dengan kapas. "Eh vin tapi yang tadi itu luar biasa loh, kau berhasil melawan rasa takutmu dan itu pertama kalinya kau mau bertarung". "Hmm kau benar rend, tadi aku merasa terlalu takut dan ingin selalu berlari, namun kau mengubahku dengan kata katamu tadi". Aku masih heran Dengan wajah yang hancur rendy masih bisabmenjadi ceria "hahaha, gak kok vin, itu cuman kata kata dariku aja, hanya kau yang mau dan bisa mengubah takdir dirimu sendiri". "Ah dasar kau rend, dengan wajahmu seperti itu masih bisa tertawa". "Ini bukan apa apa samaku, lagi pula liat wajahmu ada luka lebam juga dipipi, harus diobatin juga". "Tapi ini gak seberapa sama lukamu rend, lagi pula gak sakit kok". " Ah masa gak sakit, aku pegang ya?" ujar rendy Sambil memegang luka lebam dipipiku. "Aduh ya sakit lah kalo dipegang, gimana sih". " haha sakit kann makanya obatin juga pipimu".
Suasana tegang saat diuks berubah menjadi hangat dengan penuh canda dan tawa, walau ada banyak noda darah dimana mana. Bel masukpun berbunyi dan kami kembali kekelas masing masing. Sesampainga aku dikelas aku tak melihat robi dan temannya, tasnyapun tak terlihat, sepertinya mereka bolos sekolah setelah pertarungan tadi. Namun aku masih kepikiran soal rendy. " Hmm gimana ya rendy, apa reaksi teman kelas dan orang tuanya saat tau wajah rendy babak belur seperti itu, aku sangat merasa bersalah, semoga rendy baik baik saja".
Jam pelajaran pun tiba, lalu tiba tiba guru mengatakan bahwa hari ini ada ulangan mendadak yang mempengaruhi nilai raport. Sontak akupun langsung mengambil buku dan pulpenku, tetapi pulpenku tiba tiba terjatuh, disaat aku ingin mengambil pulpenku ternyata sofi sudah mengambilnya lebih dulu lalu memberikannya kepadaku dengan senyuman manisnya, akupun hanya bisa terdiam. Lalu aku berterimakasih sambil memandang senyumannya itu. Jarang jarang aku bisa mendapatkan momen seperti ini dan membuatku semakin jatuh hati kepada sofi. Waktu ulanganmu dimulai, aku mengerjakannya dengan semangat hingga aku menjadi orang pertama yang menyelesaikan ulangan, dan setelah hasil ulangan diumumkan aku berhasil mendapatkan nilai yang terbaik dikelas, orang orang mulai memperhatikanku namun aku tak peduli dengan orang lain, aku hanya memikirkan sofi seorang karena kejadian tadi.
Tak lama bel istirahatpun berbunyi, namun aku tak langsung keluar menuju tempat biasaku bersama rendy, aku harus membersihkan kelas dan ruangan dahulu karena ini jadwal piketku, karena pertarungan dengan robi tadi aku jadi tak sempat untuk piket pagi, alhasil kelas sekarang menjadi lebih kotor dan aku harus membersihkannya sendirian. Namun itu tak masalah bagiku karena sekarang aku menjadi lebih semangat.
Setelah selesai piket aku langsung bergegas keluar kelas karena mengira rendy sudah menunggu disana , namun tak sengaja aku melihat rendy dan sofi berdua disamping kelas rendy. Aku pun bersembunyi dan diam diam mengintip mereka, ternyata sofi sedang memasang plester hansaplast kewajah rendy yang luka. Mereka mengobrol berdua dengan asiknya. Melihat itu, perasaanku menjadi sakit. Aku pergi keatas balkon tempat biasaku. Aku merasa sangat sedih dan perasaanku bercampur aduk.
Disisi lain aku sangat menyukai sofi dan berharap dia menjadi wanita impianku, sudah lama aku memendam perasaan kepada sofi apalagi saat kejadian barusan dia memberi senyum kepadaku dan kemudian sekarang aku melihat dia sedang berdua dengan perhatian lebih dengan laki laki lain yang memiliki hubungan spesial. Namun disisi lain aku sadar rendy adalah temanku yang benar benar perduli denganku, dan aku sadar aku tak layak bersama sofi dengan fisiku seperti ini. Perasaanku benar benar bercampur aduk namun aku tak boleh menujukan ini didepan rendy.
Tak lama rendypun datang, akupun langsung bertanya mengenai dia agar ia tak tau apa yang aku rasakan tadi "hai rend, gimana lukamu udah agak baikan atau masih sakit?"
"Udah gpp kok, aku udah biasa sama hal kaya gini". Aku pun teringat saat pertarungan tadi pagi, gerakan dia berbeda dari robi dan temannya " eh rend, btw kau ada belajar seni beladiri?, Baru pertama kalinya aku melihat gerakanmu tadi pagi yang pas kau menendang wajah teman robi dengan kaki belakangmu, keren banget loh kaya kalajengking". "Wah iya masa sih, aku udah lupa malahan. Iya aku pernah belajar taekwondo, aku udah sampai tingkatan sabuk coklat".
" Seriusan rend? Aku pun mau dong gabung dan belajar taekwondo supaya aku bisa jadi lebih kuat kaya dirimu".
"Haha iya vin, tapi itu dulu, sekarang aku udah keluar dari taekwondo sekitar sebulan yang lalu, tapi aku otodidak belajar dan latihan sendiri dirumah". "Lah kok keluar rend?". " Hmm iya vin, ceritanya perguruan ditaekwondo aku sangat keras, bahkan guruku sangat kejam. Jadi saat itu ketika ada turnamen aku ditunjuk sebagai perwakilan, dan aku berhasil sampai kefinalnya. Namun guruku berpesan aku harus mematahkan kaki dari lawanku agar perguruanku menjadi terkenal dengan kekuatannya nanti kalau tidak aku akan dikeluarkan. Namun aku menolaknya dan ketika aku bertarung musuhku ini sangat kuat hingga aku dikalahkannya, guruku sangat malu dan akhirnya memutuskan mengeluarkan aku".
"Hmm begitu ya, sayang banget rend padahal kau sudah sampai sejauh ini namun gurumu tak menghargainya". " Tak apa vin yang terpenting aku masih bisa berlatih sekarang, aku juga bisa mengajarimu kok".
" Srius rend?" Dengan senangnya aku. "Iya serius vin, kalau kau mau gimana kalau kita mulai latihan besok dan kita akan berlatih setiap hari?". "Wahh mau rend.. " . Lalu bel masukpun berbunyi, dan kami berdua bergegas masuk kekelas masing masing.