Tak terasa sudah 6 bulan berlalu. Ujian semester kenaikan kelas sudah terlaksanakan. Aku mendapatkan nilai bagus dari semua hasil ujian ku, dan akhirnya aku berhasil mendapatkan peringkat 2 dikelas ku. Teman teman kelasku mulai berubah pandangannya mengenai ku, yang asalnya memandangku dengan sebelah mata kini mereka mengira aku anak yang pintar ditambah lagi karena aku berteman dengan rendy derajat ku seperti diangkat olehnya disekolah ini. Setelah 6 bulan lebih berteman dengan rendy, kini aku tau seperti apa dirinya. Ia adalah seorang laki laki yang elit, menjadi idaman para wanita karena sifatnya yang cool dan pendiam, ia hanya berbicara seperlunya saja. Ditambah lagi ia mempunyai wajah yang tampan juga bentuk fisik yang sempurna, tak heran sofi memiliki hubungan dekat dengannya. Walau dulu terkadang aku selalu merasa cemburu ketika sofi dekat dengan rendy namun kini aku paham aku bukanlah selevel dengan rendy.
Walaupun begitu rendy tidak begitu peduli dengan teman kelas disekitarnya, apalagi wanita wanita yang sudah sering menggodanya maupun menyukainya secara diam diam, ia benar benar sangat fokus dengan apa yang ia lakukan, ia hanya tertarik dengan sesuatu yang ia ingin ketahui. Begitu juga ketika ia memperlakukanku dengan baik sangat berbeda ketika ia memperlakukan teman kelas atau wanita wanita yang menyukainya, ia lebih cenderung untuk tak merespon mereka kecuali ada hal yang penting. Aku mengakui bahwa aku sangat ingin memiliki kehidupan seperti rendy,kehidupan dia seperti idaman bagiku. menjadi pria yang elit dan berbakat disukai banyak wanita, walau terkadang aku sangat iri dengannya. Namun aku harus menjauhkan perasaan itu karena dia adalah temanku yang lebih dari segalanya.
Hari pembagian rapot pun tiba, aku yang sudah mengetahui bahwa aku mendapat peringkat 2 sangat bersemangat untuk baris di lapangan, dan aku sangat berharap ibuku ada disini. Acara penyerahan piagam pun dimulai, satu persatu siswa peringkat 3 besar dari setiap kelas disebutkan. Hingga tiba giliran ku. "Siswa dari kelas 8A dengan nilai rata rata 95, diharapkan untuk maju ke depan, Alvin.." gema suara dari kepala sekolah. Aku begitu senang dan bahagia bisa berdiri didepan sini untuk pertama kalinya, aku datang menemui kepala sekolah di podium, lalu ia memberiku piala dan juga selendang bertuliskan namaku. Aku merasa bahwa aku mempunyai sedikit kelebihan dari rendy yaitu dari prestasi. Namun tak sempat aku berfikir lama. "Siswa dari kelas 8B dengan nilai sempurna dan menjadi juara umum, tepuk tangan yang meriah untuk.. rendy..". Aku begitu kaget ternyata rendy selama ini adalah pemegang juara umum angkatan ku. Ini membuatku sedikit semakin iri melihatnya selalu berada di depanku di segala hal. Namun aku mengesampingkan hal itu dan tetap bersorak untuknya.
"Selamat ya rend.. kau selalu yang terbaik". Ujar ku.
"Ehh yang benar selamat untuk kita karena sudah melakukan yang terbaik, sorak untuk kita yeee". Jawab rendy sambil bersorak ria untukku. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini, berada didepan dengan penuh gema dan suara tepuk tangan yang begitu meriah. Aku merasa hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku. Aku dan rendy kemudian pulang bersama dengan membawa piala kami. Kami bercerita dengan suka ria. Namun ditengah perjalanan ketika kami melewati gang sempit ternyata ada robi dan 3 temannya yang sepertinya sudah menunggu kami.
Dari jauh terlihat Ia dan temannya membawa balok kayu dan juga batang besi, terlihat juga banyak berserak bekas botol minuman keras. Sepertinya kali ini dia sudah mabuk dan memang berniat mengincar kami. Aku mencoba memberitahu rendy "Rend, gawat. Kita harus lari".
"Kau benar vin, kita bisa terbunuh jika dilihat dari stuasinya". Ujar rendy, namun disaat kami sudah berputar balik tak menyangka bahwa teman rendy sudah ada dibelakang kami. "Kita terkepung!!" Ujar ku sambil panik. "Tenanglah vin, kita harus berfikir bagaimana melewati mereka dengan selamat". Dari jauh terlihat robi yang sudah berdiri dan tertawa sambil setengah sadar karena mabuk.
"Hahaha.. udah lama aku nunggu saat saat ini, kalian bakal benar benar mati aku bikin, hajar mereka sampai mati". Teriak robi.
Pertarungan sudah tak terelakan lagi 2 lawan 5.
Rendy yang sudah siap lalu mengeluarkan doblestick yang ia sembunyikan didalam bajunya. "Vin, kita jangan berpencar, tetaplah bersama saling melindungi. Aku tak tau apa yang akan terjadi nanti". Lalu aku mengeluarkan bersnekel yang dulu rendy kasih kepadaku ketika latihan "Kita tak akan kalah, aku bertaruh untuk itu."
Roby datang langsung memukul kepala rendy dengan keras menggunakan batang besi namun berhasil ditepis dengan doblestick rendy. Rendy menyerang balik dengan keahlian dia menggunakan doblestick seperti bruce lee. Dan berhasil mengenai 2 kepala teman robi yang seketika tumbang.
Dari belakang aku melawan teman robi yang mengepungku. Awalnya aku terkena pukulan balok kayunya ditanganku, namun aku sudah terbiasa karena latihanku selama ini. Aku mendekatinya lalu memukulnya dengan bersnekelku tepat dileher dan rahangnya yang membuat ia seketika tumbang.
Tersisa robi dan 1 temannya. 2 vs 2, aku menyerang teman robi terlebih dahulu karena ia lengah, namun ia berhasil menangkis dan menangkap tanganku lalu membanting tubuhku hingga terguling. Belum sempat aku bangkit, ia sudah memukuliku dengan balok kayu secara brutal, dan aku hanya bisa menangkis dengan tanganku walau rasanya sangat sakit. Ketika ada jeda saat ia akan memukul aku lebih dulu menyerang titik vitalnya yaitu dikemaluannya dengan bersnekelku, dengan kerasnya aku pukul hingga iya berlutut seketika. Lalu aku menghajarnya secara beruntut dirahangnya hingga ia tak bergerak sama sekali. Tetapi karena aku terlalu fokus bertarung, aku sampai menghiraukan rendy, ketika aku melihat ,robi diam diam mengambil pisau belati dari dalam celananya. Aku berusaha berteriak kepada rendy. "Rendd dia bawa pisau, larii jangan dilawan". Namun ketika rendy sadar robi langsung berlari dan menusuk rendy tepat diperut.
Aku yang syok melihat itu langsung mengambil batang besi panjang dan mengejar robi. Lalu aku memukulnya tepat dikepala hingga kepalanya berdarah, tetapi ketika aku akan menyerangnya lagi ia langsung lari. Aku tak menghiraukannya lagi, ketika aku melihat rendy yang hanya berlutut terdiam. Aku menangis, aku tak tau harus apa. "Rend, jawab.. kau gpp kan.. itu cuman luka kecil kan.. jawab.." namun melihat tatapan kosong rendy aku semakin menangis, dan ketika melihat perutnya, begitu banyak darah yang keluar dan lukanya yang sangat dalam dan lebar.
"Jangan menangis, jangan." Jawab rendy sambil terpatah patah lalu ia langsung tak sadarkan diri. Tak pikir panjang aku langsung
Mengambil selendangku yang aku dapat ketika di podium tadi dan langsung mengikat perut rendy agar menutupi lukanya. Lalu aku menggendong rendy hingga kejalan raya, sesampainya disana aku meminta tolong kepada mobil pickup yang sedang parkir untuk membawa kami kerumah sakit. Dan beruntungnya supir mobil itu mau dan kami langsung bergegas pergi. Melihat rendy yang sudah pucat membuatku tak bisa menahan air mataku. Aku terus memegangi tangan rendy agar memastikan nadinya masih berdenyut. Sesampainya di rumah sakit, rendy langsung dibawa ke IGD dan mendapatkan perawatan, aku hanya bisa menunggu diluar tanpa tau harus bagaimana.Aku sangat linglung karena tak pernah berada disituasi seperti ini. Aku tak tau dimana rumah rendy, orang tuanya, atau keluarganya. Namun aku berinisiatif untuk menghubungi guruku yaitu bu fitri yang menjadi walikelas rendy.
Dan syukurlah tak lama kemudian bu fitri akhirnya datang kers. Namun kondisi rendy masih tak sadarkan diri dan belum bisa dilihat. Aku dan bu fitri hanya bisa menunggu diluar terlihat bu fitri yang sangat khawatir dan cemas, dan kemudian datanglah seorang suster. " Permisi, kalau boleh tau yang mana orang tua rendy ya, apa sudah datang?". Lalu sontak bu fitri bangkit "saya adalah walinya suster, gimana keadaan rendy?". Jawab bu fitri dengan penuh cemas. "Jadi gini bu, luka tusuk diperut rendy sangat dalam, dan ada beberapa serpihan juga yang masuk, ia juga kehilangan banyak darah, dan harus segera dilakukan tindakan oprasi. Namun kami memerlukan persetujuan dari pihak keluarga rendy, untuk menanggung semua biayanya, karena biayanya sangat besar".
"Yaudah suster biaya biar saya yang nanggung semua, segera lakukan yang terbaik untuk rendy". "Baik bu, sihlakan keruangan administrasi sekarang". Ujar bu fitri sambil berlari keruang administrasi. Disini aku sangat heran, kenapa bu fitri tak menelepon orang tua atau keluarga rendy. Dan kenapa ia mau menanggung seluruh biaya oprasi rendy yang sangat besar sementara bu fitri bukanlah siapa siapa rendy.