Welcome to
The Hero From The Darkness
The Story of a Boy's Life Journey
Chapter 9
Semua kembali menjadi baik baik saja

Aku membuka mataku dan menyadari bahwa aku sedang terjatuh dari atas langit menembus awan, lalu aku melihat dibawah sudah ada lautan biru luas yang tak lama lagi aku akan terjatuh kedalam air. Aku sadar ini hanya mimpi karena sekarang aku berhasil mengatasi rasa takutku. Aku memejamkan mataku dan percaya bahwa aku bisa keluar dari mimpi ini, saat ketika aku sudah terjatuh dan berada didalam air yang biru aku merasa seperti tenang dan damai namun aku menahan nafas dan akhirnya aku terbangun dari tidurku.

Terlihat dari jendela cahaya matahari yang terang masuk menembus kaca. Terdengar suara bising orang yang beraktivitas diluar, dan jam menunjukan pukul 9. Aku bangkit dari kursi panjang dan sadar bahwa hanya ada aku sendirian disini. Namun dimeja sebelahku terdapat satu cup bubur yang diatasnya terdapat surat. Dan ketika aku membacanya ternyata itu dari sofi. "Untuk alvin, tadi jam 7 rendy sudah dibawa ke ruang rawat inap, dan syukurlah operasi rendy berjalan lancar. sofi harus pulang ke rumah sebentar sama bu fitri untuk izin sama orang tua sofi dan akan segera kembali, buburnya dimakan ya, oh iya ruangan rendy ada dilantai 3 nomor 7 dekat tangga".

Setelah membaca surat dari sofi, aku bergegas mencari ruangan rendy dan membawa bubur dari sofi. Ketika aku sedang berjalan melewati koridor, aku melihat ada seorang gadis kecil yang baru turun dari ambulan dengan dada berlumuran darah seperti terkena tembakan. Ia sudah tak sadarkan diri dan segera dibawa menuju IGD, tak terlihat satupun keluarganya yang menemaninya, hanya petugas rumah sakit dan kepolisian yang membawanya. Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan gadis malang itu dan mengikuti para petugas itu hingga ke depan pintu IGD. Dan diam diam menguping pembicaraan mereka.

"Aku ragu dia bakal bertahan, tembakannya pas di dada kiri, sepertinya ayahnya benar benar berniat membunuhnya" jawab dari seorang petugas polisi. "Kau benar jack, kasian sih dia, ibunya, adiknya, kakaknya udah dibantai sama ayahnya. Dan sekarang ayahnya udah menghilang tanpa jejak. Aku ragu atasan kita bisa menemukan si bajingan itu kurang dari seminggu" jawab rekan polisi tersebut. "Kita doakan yang terbaik aja semoga dia cepat tertangkap. Dan semoga gadis ini bisa selamat, tetapi andai dia selamat aku yakin kehidupannya akan dipenuhi dengan kebencian dan dendam kepada ayahnya sendiri. Sungguh miris takdirnya".

Setelah mendengar percakapan tersebut aku langsung kembali berjalan ke koridor untuk menemukan ruangan rendy. Mungkin seharusnya aku tak mendengar percakapan tadi, tak seharusnya aku mengetahui hal yang tak perlu aku ketahui. Selama berjalan aku terus melamun memikirkan nasib gadis itu "Apakah inikah dunia sebenarnya? Sungguh, begitu terkutuk. Bagaimana orang bisa mencintai hidupnya dengan takdir seperti itu". Aku berusaha melupakannya karena aku sadar itu bukan urusanku dan alasan mengapa aku berada disini adalah karena rendy. Setelah begitu panjang koridor aku lalui, aku sampai di ruangan kamar rendy. Aku membuka pintunya dan melihat dia masih tak sadarkan diri. Dengan selang oksigen dan infus yang menempel ditubuhnya aku kembali menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi. Namun tiba tiba datang seorang suster di belakangku. "Kamu temannya ya, gapapa kok dia baik baik aja, dia cuman butuh istirahat yang cukup karena kelelahan saat operasi semalam, bentar lagi dia bakal bangun". Ujar suster tersebut sambil membuka jendela. "Syukurlah, terimakasih suster.." jawabku

Kemudian aku duduk di samping rendy dan memakan bubur yang sofi berikan tadi pagi. Sambil memandangi jendela dengan langit biru yang cerah, terlihat juga banyak kicauan burung yang berada diluar jendela. Perasaan yang sungguh damai dan tenang untuk sesaat setelah berbagai macam hal luar biasa yang aku rasakan sejak tadi malam. Aku sudah tak ingin memikirkan sesuatu lagi. Aku melamun sambil menatap keluar jendela dengan pikiran kosong. Saat aku memejamkan mata terdengar suara memanggilku dari belakang. "Hey alvin, kayanya kita terlambat sekolah nih". Dan ketika aku menoleh kebelakang terlihat rendy yang sudah dalam posisi duduk sambil senyum memandangiku. "Haha, dasar.. kau ini.. kau.. kau membuatku khawatir tau" jawabku sambil tersenyum haru. Aku tak bisa menahan air mataku dan menetes sedikit demi sedikit. "Lah.. seorang alvin juga bisa menangis haha, elap air matamu, malu tau kalau diliat orang nanti". Ujar rendy. "Dasar bodoh, kau tak tau betapa aku dan sofi mengkhawatirkanmu. Kau tak sadarkan diri 1 harian". "Hehe yeah sekarang semua baik baik sajakan, aku sudah kembali normal". "Bagaimana kau bisa menyebut dirimu kembali normal dengan selang oksigen menempel dihidung dan infus tertancap ditanganmu?". "Oh ayolah aku bisa melepas ini kapan saja sekarang" jawab rendy dengan guraunya. "Mungkin butuh 3 hari atau seminggu sampai kau benar benar pulih ren". Lalu terdengar suara pintu terbuka dan ternyata itu adalah sofi dan ibu fitri. Sofi yang melihat rendy yang sudah sadar langsung berlari memeluk rendy dengan erat "Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu.. jangan seperti ini lagi ya". Ujar sofi sambil menangis didalam pelukan. "Hei.. tidak apa apa sofi.. aku sudah kembali.. terimakasih untuk semuanya". Jawab rendy. Melihat mereka berdua berpelukan aku hanya bisa tersenyum dan lalu memutuskan pergi keluar untuk ke kamar mandi, lebih baik aku membiarkan mereka berdua untuk sementara. Bu fitri yang melihatku pergi ia lalu mengikutiku dari belakang. Saat aku berjalan dikoridor aku melihat ada ruangan yang dijaga ketat oleh polisi yang tadi aku temui dibawah, ternyata itu adalah ruangan operasi. Saat aku ingin berjalan melewatinya sontak aku terdiam saat tak sengaja mendengarkan pembicaraan polisi tersebut. " Jack, aku gak percaya kalau si pembunuh itu sudah tertangkap namun ia tak dijadikan tersangka melainkan sebagai saksi, padahal sudah jelas semua bukti menunjuk bahwa ia pelakunya". "Kau benar, ada yang tidak beres, semua berita tentang pembunuhan ini awalnya sudah tersebar luas diseluruh media, namun barusan seketika menghilang seolah olah ada yang ditutup tutupi". "Tadi juga jack aku udah nanya atasan soal ini, tapi dia malah marah marah dan bilang agar kita tutup mulut soal ini dan fokus menjalani tugas kita saja". Pembicaraan itu seketika terhenti saat seorang suster yang buru buru ingin masuk keruangan operasi tersebut tak sengaja menabrak ibu fitri, lalu semua dokumen yang ia pegang jatuh berserakan dilantai. "Eh maaf ya mbak, aduh saya bantu ambilin ya" ujar bu fitri. Lalu aku tak sengaja melihat 1 dokumen yang ternyata adalah identitas gadis itu. Aku mengambil dan membacanya sesaat, terdapat foto gadis itu beserta nama,usia dan tanggal lahir. Ternyata gadis itu bernama karin dan ia berusia 11 tahun, hanya berbeda 3 tahun denganku sungguh malang takdirnya dengan usia semuda itu. Lalu suster mengambil paksa dokumen yang aku pegang. "Maaf ya dek, ini dokumen rahasia sebenarnya, harusnya gak boleh dilihat". Ujar suster itu. "Aduh maaf ya mbak, ini murid saya, dia masih belum mengerti" jawab bu fitri. Lalu aku ditarik oleh bu fitri kembali ke depan pintu ruangan rendy.

"Nak alvin, yang tadi itu cukup bahaya, kita harus hati hati dengan hal seperti itu.. jangan sembarang menguping atau membaca dokumen seperti itu" ujar bu fitri, aku yang masih kebingungan tak mengerti apa apa lalu bertanya "emang kenapa bu, apa yang salah? ". "Ibu udah tau tadi pagi soal berita anak itu. Anak itu jadi korban pembunuhan 1 keluarga yang dilakukan oleh ayahnya, seluruh keluarganya meninggal dan hanya tersisa anak itu saja yang selamat. Ayahnya adalah seorang mafia narkoba dan kejahatan lainnya, namun iya juga seorang pengusaha penting yang ditakuti oleh pemerintah. Jadi ia menyogok seluruh polisi dan oknum yang terlibat untuk tutup mulut. Andai nak alvin dicurigain sama mereka itu bisa bahaya" jawab bu fitri. Lalu "bu.. kenapa?", "Kenapa apanya nak alvin?". "Kenapa dunia tidak adil dan begitu kejam". Bu fitri lalu memegang bahuku sambil tersenyum. "Ibu juga ga tau, kenyataannya sudah sejak dulu dunia seperti ini. Kita hanya bisa menghindari dari hal hal seperti itu". "Lalu bagaimana cara menghentikan ini semua dan membuat dunia menjadi adil?". Bu fitri hanya terdiam lalu "ibu juga ga tau jawabannya, kenyataanya yang terkuat lah yang bisa berkuasa.. yasudah lupakan saja soal kejadian tadi ya nak, yang terpenting ibu mau kalian belajar yang rajin dan menjadi siswa berprestasi, itu tujuan ibu, andai kalian sudah dewasa nanti ibu harap kalianlah yang bisa merubah dunia ini".

Aku sadar bu fitri tak tau jawabannya dan menaruh harapan besar kepada kami untuk menemukan jawaban merubah segalanya. "Iya bu, terimakasih atas semua jasa ibu kepada kami.. " . "Udah ah yuk nak temenin ibu beli makanan diluar, udah siang nih hampir jam 2 , kasian sofi belum makan dari pagi, tadi pagi ia mau membeli bubur 2, hanya saja dia bilang udah ga sempat untuk makan lagi jadi dia hanya membelikan 1 untukmu saja". Ternyata sofi sampai bebuat sejauh itu demi aku. "Emm iya bu, ayok kita pergi".

Aku dan bu fitri akan bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, namun sebelum itu aku melihat mereka dari jendela. Mereka sedang bercanda tertawa ria melepas kerinduan. Disini aku sadar sofi benar benar mencintai rendy, namun setelah apa yang dilakukan sofi untukku merasa senang melihat mereka berdua bisa kembali tertawa bersama. Bu fitri yang melihatku menyadari bahwa aku menyukai sofi namun sofi menyukai rendy, dia hanya tersenyum dan memegang bahuku. "Alvin, udah yuk.." "iya bu.." .

Hari diluar begitu panas dan tak terasa 1 jam kami keluar membeli makanan. Kami pun kembali membawa makanan, tak ada suara di ruangan mereka ternyata mereka berdua sudah tidur. terlihat sofi yang sedang tidur ditangan rendy. Dengan bekas air mata dimatanya. Lalu aku bergegas menyiapkan makanan dan bu fitri yang membangunkan sofi. "Oiik sofi.. ayok kita makan, aku bawa ayam nih enak.. " ujarku. "Hihi iya alvin.. " jawab sofi dengan wajah kantuk bercampur dengan senyumnya yang manis. Kalau dipikir pikir sofi lebih kurang tidur dibandingkan aku tadi malam, tak heran kalau dia sekarang sangat mengantuk. Kami bertigapun makan, namun bu fitri sepertinya terlihat mual. "Bu.. ibu sakit?" Tanya sofi. " Gpp kok nak, ibu kayanya cuman masuk angin aja, ayok lanjut lagi makannya. " Jawab bu fitri. "Ibu kalo sakit istirahat aja dirumah biar kami yang jaga rendy.." ujarku. "Emm iya nak, mungkin habis ini ibu bakal pulang tidur dulu sebentar nanti malam ibu bakal kembali lagi..".

Season 1 : Little Boy
Chapter List
Thank You >.<
Do you like this? Support the author to continue this Novel, Thanks for reading, see u later