Haripun sudah sore, barusan bu fitri sudah pulang. Hanya menyisakan sofi dan aku yang menjaga rendy yang sedang tidur. "Sofi, aku keluar sebentar ya mau liat liat pemandangan ". "Iya.. awas nyasar ya vin.. rumah sakit ini luas loh". "iya mbak sofii huu. " Jawabku dengan gurauan. Sebenarnya aku ingin pergi ke lantai paling atas balkon rumah sakit. Untuk mengobati kerinduanku seperti tempat biasa aku berada disekolah, aku yakin pemandangannya begitu indah dengan langit sore yang cerah ini. Aku berjalan melewati ruang operasi yang tadi, tenyata sudah sepi dan tak ada orang tetapi saat aku melewati tangga, terlihat ada banyak petugas rumah sakit dan polisi berlarian, seperti sedang mencari sesuatu. Seperti yang dikatakan bu fitri aku tak boleh mendekati hal seperti itu lagi lalu aku mengabaikannya dan terus berjalan menaiki tangga keatas.
Sesampainya diatas balkon aku terkejut melihat ada seorang gadis berambut panjang dengan baju kemeja biru berlumuran darah sedang menatap langit. Lalu aku menghampirinya "Awan berwarna Merah Orange bercampur dengan langitnya biru, seperti ada di negri dongeng saja yah, sungguh indah". "Tidak, kau salah, langit itu seperti noda darah dibajuku, itu sungguh mengerikan bagiku." . Saat aku berjalan untuk melihat wajah gadis itu ternyata begitu kagetnya aku dia adalah karin , pasien yang sedang di operasi tadi. "Apa yang sedang kau lakukan disini, bukan kah kau baru saja selesai operasi tadi? Kau harus kembali keruang perawatan.." ujarku, namun gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong menatap langit. Aku sadar aku tak boleh banyak bicara dengannya karena kondisinya masih seperti itu, aku membujuknya untuk kembali namun dia tetap diam mengabaikanku.
Perlahan dia berjalan kedepan selangkah demi selangkah mendekati pinggiran gedung yang tak ada pembatasnya. "Hei karin, berhenti, kau mau kemana? Disana berbahaya". Namun ia tak mendengarkanku dan terus melangkah. Tiba tiba datanglah petugas rumah sakit dari bawah tangga. "Nah ini dia anaknya, tangkap!! Jangan sampai dia kabur lagi". Melihat petugas yang sudah ramai berdatangan, karin seketika berlari menuju pinggiran gedung dan berniat untuk melompat bunuh diri. Aku yang melihatnyapun sontak berlari untuk menyelamatkannya. Akan tetapi dia sudah melompat duluan. Dia terjatuh namun aku reflek melompat dan langsung menggenggam tangannya dengan erat. "Lepasin tanganku, kenapa kau menyelamatkanku, kau bisa ikut jatuh bodoh" ujar karin. "Tidak akan, bunuh diri, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kau masih bisa mendapatkan kehidupan yang layak. ". " Kau.. tau apa kau soal aku? Kau tidak akan mengerti jika kau tak merasakannya sendiri. ". Disaat itu karin terus memberontak hingga peganganku hampir lepas namun untung saja petugas datang dengan sigap langsung menarik kami keatas. Disitu karin tak berkutik langsung diamankan oleh lebih dari 3 petugas rumah sakit. Tangannya diikat paksa. Disaat petugas akan membawanya kembali kedalam ruangan karin menatap mataku dengan tajam. Tatapannya seolah olah ingin menyampaikan kesedihan yang ia alami. Dan aku bisa merasakan itu. Petugas membawanya dengan paksa dan agak kasar. Disitu aku sadar mengapa karin melarikan diri dari petugas, aku berusaha untuk menjelaskan kepada petugas itu agar membawanya secara halus, akan tetapi seorang petugas mengatakan. " Berhenti, ini bukan urusanmu, kembalilah keruanganmu nak kau gak layak untuk berada disini". Ujar salah satu petugas memarahiku. Jujur saja aku ingin pergi mengikuti karin untuk menenangkannya, akan tetapi aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk, aku juga sudah berjanji kepada bu fitri untuk tidak ikut campur hal ini lagi.
Hari mulai gelap, senja sudah berlalu, aku mengabaikan perkataan petugas rumah sakit tersebut dan masih berada diatas. Setelah melihat kejadian tadi aku merasa shock karna aku kira aku akan ikut jatuh bersama gadis itu atau aku akan melihat gadis itu mati bunuh diri dihadapanku, tentu itu bukanlah pemandangan bagus untuk kondisiku saat ini. Akan tetapi mengenai apa yang dialami gadis itu sungguh menyedihkan, sepertinya ucapannya benar aku tidak akan bisa mengerti apa yang dia rasakan hingga aku merasakannya sendiri. Walau ketika aku melihat dari pandangannya sudah terlihat kesedihan yang begitu mendalam, ternyata apa yang aku lihat lebih buruk dari pada kenyataanya. Aku merasa dia menyimpan kebencian dan juga dendam. Orang orang hanya akan iba dan turut berduka sesaat namun apa yang gadis itu rasakan akan terasa selamanya.
Apa yang terjadi barusan membuat pikiranku kacau, padahal seharusnya aku sudah senang karena rendy sudah sadar dan baik baik saja. Karena rendy lah alasanku berada dirumah sakit ini, aku rasa aku tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Aku harus fokus kepada tujuanku, hanya rendy dan sofi lah orang terdekat yang aku miliki dan sudah aku anggap saudara sendiri, dan hanya merekalah yang layak aku pikirkan. Aku kembali berjalan menuju ruangan rendy sambil mencoba mengosongkan pikiran. Karena hari sudah gelap, rumah sakit sudah tutup,maka lorong lorong rumah sakitpun menjadi gelap dan sepi. Aku menjadi teringat ketika aku masih berusia 5 tahun. Saat itu keadaan rumah sedang mati lampu dan hanya ada lilin, aku berjalan mencari ibuku disekitaran rumah. Namun aku terlalu takut, aku sangat takut akan gelapan. Ibuku selalu berkata jika berjalan dikegelapan tutuplah matamu karena saat gelap tak ada bedanya ketika saat menutup mata. Suasana gelap hanya akan membuatmu takut, imajinasi mu akan membayangkan sesuatu yang menyeramkan dan membuatmu tidak fokus dengan tujuanmu, berbeda ketika kau menutup mata, semua indra mu menjadi lebih peka dan tajam untuk merasakan sesuatu.
Namun saat itu aku tak mengerti apa yang dikatakan ibuku, lebih baik aku berlari didalam kegelapan agar semuanya segera berlalu namun yang ada, aku hanya terjatuh karena rasa takutku. Dan barulah ketika aku berusia 7 tahun atau tepatnya ketika aku pindah kesini, aku sudah terbiasa dengan kegelapan, dan aku sudah bisa mengendalikan rasa takutku.
Tak terasa aku sudah sampai di ruangan rendy, terlihat sofi yang sudah tertidur lelap dibawah, dia sangat kelelahan. Dan juga rendy masih tertidur karena memang rendy harus istirahat full agar dia bisa cepat pulih. Malam ini terasa dingin dan juga banyak nyamuk berterbangan. Aku mengambil jaket ku dan kembali menyelimuti sofi. Aku duduk didepan jendela sambil melihat langit malam yang mulai mendung. Terlintas di benaku bagaimana jika semua mimpiku dimasa lalu menjadi nyata, seperti mimpi ketika aku berada di ruangan merah dengan banyak darah, mimpi ketika aku jatuh dari langit menembus lautan. Apakah aku masih bisa hidup?, Yeah itu memang hanyalah sebuah mimpi tak lebih dari imajinasi, namun akan sangat mengerikan jika itu benar benar terjadi.
Detik demi detik berlalu, malam sudah semakin larut dan jam menunjukan pukul 12. Sepertinya bu fitri tak akan kembali, dia akan kembali besok untuk membawa rendy pulang. Kalau dipikir pikir sudah 3 hari aku tak pulang ke rumah, terakhir aku pergi keluar untuk pergi sekolah. aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti ketika aku sampai di rumah, apakah aku akan diusir, dipukul, atau tak boleh keluar rumah lagi. Namun aku tak peduli lagi yang terpenting orang yang paling berharga bagiku sekarang sudah baik baik saja.
Mataku sudah tak tahan lagi, perlahan lahan aku mulai kehilangan kesadaran dan akhirnya tertidur. Didalam tidurku aku kembali bermimpi, namun aku bermimpi bertemu gadis itu lagi, dia menggenggam tanganku sambil tersenyum ke arahku, wajah sangat cantik,putih dan sungguh memukau. Dia membawaku berjalan ke depan, namun didepan adalah kegelapan. Sontak aku berhenti dan melepas tangannya, tetapi seseorang mendorongku dari belakang dan membuatku terjatuh didalam kegelapan bersama gadis itu. Aku berteriak ketakutan namun gadis itu berkata "tak ada yang peduli denganmu saat ini, kau harus menerima kenyataan bahwa kau telah kehilangan segalanya, ayo ikutlah bersamaku.. ". Aku kembali sadar bahwa ini hanya mimpi, aku tau jika aku bisa mengendalikan rasa takutku maka sekarang aku bisa mengendalikan mimpiku dan membuatku terbangun. Aku memenjam kan mataku dan memikirkan untuk bangun dari tidurku.
Dan akhirnya aku berhasil terbangun. Detak jantungku berdebar debar, badanku berkeringat, nafas ku ter engah engah. Ketika aku melihat jam ternyata sudah pukul 6. Namun seketika ada yang memegang bahuku dan aku kaget, aku mengira aku masih didalam mimpi dan gadis itu masih mengikuti ku. aku menoleh kebelakang dan ternyata itu sofi. "Alvin, kamu kenapa? Dari tadi sofi bangunin kamu teriak loh". Ujar sofi dengan keheranan. "Aku mimpi buruk tadi". Jawabku. "Emang mimpi apa sampe bikin kamu kaya gitu? Em.." tanya sofi. "Ga.. gapapa, lupakan saja". "Ohh yaudah kalo gitu ayok kita siap siap, bu fitri tadi udah datang, sebentar lagi kita pulang ke rumah rendy". "Emm iya sofi, aku juga penasaran gimana rumah rendy". Tak lama kemudian, rendy terbangun, kami memanggil suster untuk melepas selang infus dan oksigennya. Bu fitri pergi untuk mencari mobil dan membayar administrasi, sofi mengemasi semua barang barang, dan aku mendorong kursi rodanya rendy. Kamipun berjalan untuk menuju keluar. Namun ketika kami berjalan melewati sebuah ruangan. Aku melihat dari jendela ruangan itu, gadis itu yang sedang duduk di atas kasur sendirian dengan mata yang diperban. Aku langsung memalingkan pandanganku dan memutuskan untuk melupakan semuanya. Sesampainya diluar kami pulang menuju rumah rendy