Sesampainya disekolah, aku langsung berlari ke kelas untuk menyimpan tas karena bel sudah berbunyi dan anak anak lain sudah mulai baris untuk upacara. Ketika aku ingin menaiki tangga untuk menuju kelasku. Banyak anak anak turun bergerombolan dari atas tangga menuju kebawah. Mereka saling dorong hingga aku terhimpit dan jatuh dari tangga. Tak ada yang memperdulikan ku karena mereka hanya fokus untuk baris upacara.
Aku bangkit dengan rasa sakit di lutut dan siku ku berjalan ke kelas untuk menyimpan tas, sesampainya dikelas aku langsung didatangi seorang guru dengan membawa kayu panjang.
"Heh kau, ngapain masih disini? Mau cabut upacara kau?". "Tidak pak, saya hanya ingin meletakan tas lalu kembali kebawah".
Guru tersebut langsung memukul kakiku
"Udah terlambat masih ngomong lagi!, Cepat turun kau sana"
. Sontak aku berlari kebawah dan mencari barisan upacara. Karena hanya aku yang tersisa di atas sontak aku menjadi pusat perhatian anak anak lain. Sesampainya dibarisan kaki dan lutut ku sangat sakit namun aku masih bisa menahannya.
1 jam telah berlalu namun upacara belum selesai, tubuhku sudah tidak kuat lagi, perutku mual ,kepalaku pusing ingin jatuh. Namun aku sadar apa kata orang jika seorang laki laki tumbang seperti wanita. Aku masih tetap bertahan walau sangat menderita dengan tubuh lemah ini. Sesekali aku jongkok dan berdiri lagi. Aku mencubit pahaku agar mengalihkan rasa sakit. Tak lama kemudian upacara selesai dan rasanya seperti terbebas dari penjara bagiku.
Sesampainya dikelas aku langsung mengambil posisi nyaman di bangku ku dan berusaha untuk tidur agar bisa memulihkan sakit ditubuh ku. Namun tiba tiba ada yang sengaja menggeser bangku dan kursi ku dengan keras hingga aku terjatuh. 1 kelas mereka mentertawakan ku, dan aku langsung membenarkan posisi meja dan kursi ku tanpa memperdulikan siapa pelakunya. Tetapi seorang anak bertubuh besar langsung memegangi ku dari belakang.
"Kau mau kemana? Masih pagi udah tidur aja kau kaya orang penyakitan. Kau belikan aku dulu gorengan di kantin sekarang pake uangmu dulu nanti aku ganti"
. "Tapikan yang kemarin aja belum kau bayar".
Ia menjawab dengan lantangnya sambil mendorongku
"yaudah nanti ku bayar takut amat sih kaya besok aku udah lari aja. Yaudah sana cepet pergi nanti ku bayar, tapi taun depan hahaha".
lalu aku pergi ke kantin walau aku sadar akan dimarahi karena sudah waktunya jam pelajaran. Namun ketika aku baru mau keluar pintu, sudah ada guru matematika didepan ku.
" Mau kemana kamu? Masuk kedalam"
"Mau beli gorengan bu untuk robi" jawabku.
"Lah baru aja masuk kelas udah mau ke kantin, gak gak ada gak boleh, masuk sekarang ini perintah ibu".
Lalu aku melihat kebelakang dan terlihat robi yang sudah memegang tasku sebagai jaminan jika aku tidak membeli gorengan dia.
"Mungkin ibu bisa menghukum ku sekarang, tapi robi bisa mendatangi rumahku kapan saja dan membunuhku".
Aku langsung pergi ke kantin tanpa menghiraukan guruku.
Setelah aku membeli gorengan aku kembali ke kelas, namun guru melarang ku duduk dan harus berdiri didepan kelas sambil mengangkat pot bunga hingga jam pelajaran dia selesai selama 2 jam.
Aku berdiri dengan penuh dendam dan kebencian kepada takdir dan diriku sendiri, aku menangis didalam kejapan mata. Aku berusaha bertahan dengan tubuh lemahku ini sampai 2 jam berlalu. Dan akhirnya aku bisa duduk.
Tak terasa waktu istirahatpun tiba, setiap anak anak keluar kelas bersama temannya menuju taman dan kantin sambil tertawa ceria, sebagian lagi tetap berada dikelas sambil bermain game. Hanya aku yang tetap duduk sendirian menatap jam. Aku sudah tidak punya uang lagi untuk jajan namun setidaknha robi dan temannya tidak menggagguku untuk semntara waktu ini.
Tak lama kemudian lewatlah seorang gadis cantik bernama sofi, ia duduk berada tepat 2 bangku didepanku, terkadang aku sering memerhatikannya diam diam dan aku memiliki sedikit perasaan kepadanya namun aku sadar aku tidak layak untuk berteman dengannya apalagi sampai orang tau bahwa aku menyukainya, itu hanya akan membuat ia dalam masalah karena mau berhubungan dengan orang seperti itu
Aku merasa kesepian dan pergi keluar menuju tempat biasa aku menghabiskan waktu sendirian ketika istirahat ataupun jam kosong. Yaitu dilantai balkon paling atas sekolah. Aku senang memandangi langit itu membuatku tenang, namun tidak bisa mengobati sakit didalam hatiku paling dalam. Langit hari ini cerah dan angin berhembus kencang dan membuat pikiranku kosong. Tak lama aku sadar sebentar lagi bel masuk dan aku tidak ingin ada masalah lagi, aku segera turun kebawah dan masuk ke kelas.
Namun ketika dilorong sekolah aku melihat robi dan temannya didepan, aku memutuskan untuk kembali dan menunggu ia pergi namun seseorang tiba tiba mendorongku dibelakang dan ternyata itu tio.
"Ehh mau kemana kau, maju ajalah ngapain mundur.. Rob robi tengoklah dapet apa aku, sini kalian"
seketika robi dan temannya datang dan mengelilingiku.
"Ehh vin mukamu kok ngantuk terus kuliat, gak mandi kau kan? Sini biar kumandiin skarang biar gak tidur aja kerjaanmu dikelas, yok angkat dia yok bawa kekamar mandi".
Seketika badanaku diangkat oleh mereka kekamar mandi, aku berusaha berontak dan lari namun tenaga mereka terlalu kuat. Orang orang hanya memandangiku saja dan menganggap itu hanya candaan.
Sesampainya dikamar mandi aku langsung di siram oleh seember air bekas pel. Tubuhku basah semua dan 1 orang dari mereka memukulku dari belakang lalu mengunci ku dari luar kamar mandi, aku terkurung didalam kamar mandi untuk waktu yang lama.
"Kenapa? Ada apa denganku? Kenapa harus aku? Kenapa harus aku! Kenapa harus aku!!! "
Aku menangis didalam hening sambil memukul mukul dada dan tembok.
Namun aku sadar aku harus melewati hari ini, lalu aku menyuci dan mengeringkan seragamku hingga 2 jam. Kemudian seseorang tiba tiba membuka kunci pintu kamar mandi dan ternyata itu petugas kebersihan sekomah.
"Loh kau lagi dek yang disini, aduhh kok basah semua badanmu, pasti ulah mereka lagi ya? Hampir tiap hari loh dek kau diginiin, cerita lah sama ibu ada apa sebenarnya".
Aku hanya terdiam karena aku sadar percuma aku bercerita dengannya , dia tidak akan bisa membantuku apalagi mengubah takdirku.
" Tidak apa apa bu, aku mau langsung kembali kekelas."
Aku langsung kembali kekelas namun keadaan kelas kosong dan sepi
"sepertinya mereka sudah pulang, dan tidak ada yang memperdulikan keberadaanku, dan tasku juga hilang , seharusnya aku sudah menduga ini ulah robi".
Hampir 15 menit aku mencari tasku dan akhirnya aku menemukannya ditong sampah dengan keadaan kotor bau busuk. Lantas aku langsung mencuci tasku dan langsung pulang.
Diperjalanan pulang aku berjalan sejauh 10 km karena sudah tak mempunyai uang lagi. sambil memandangi langit dan melewati taman yang sunyi, aku selalu mampir kesebuah ayunan tua dibawah pohon yang rindam. Aku merasa nyaman sendirian disana hingga sore. Kemudian langit yang tadi pagi cerah berubah menjadi mendung gerimis. Aku berjalan ketengah lapangan tangan sambil melihat kelangit.
"Hujan, ya, kau mewakili tangisanku. Turun lah lebih deras hingga kau mengeluarkan seluruh tangisanku yang terpendam.. Turunlahh!!" Teriak ku.
Hujanpun turun lebat dengan petir menyambar, membuat semua teriakanku larut didalam air hujan. Aku berlutut sambil meremas tanah dan rumput.
"Kapan takdir ini berakhir!! Apakah takdir tak bisa diubah".
Hujanpun berhenti dan aku bergegas pulang kerumah. Aku berharap ibuku sedang tidur dirumah namun.
"Darimana aja kau, jam segini baru pulang?, Habis kerja nyari duit??".
"Tidak bu, tadi habis ngerjain tugas tapi pas mau pulang hujan jadi berteduh dulu".
"Bohong aja kerjaanmu, badanmu aja basah gitu. Sana mandi habis itu cuci piring sama beresin rumah!".
Akupun langsung masuk kedalam dan mengerjakan semuanya
Malam pun tiba, setelah aku mengambil makan malam aku langsung bergegas kekamar tanpa ada ucapan sepatah katapun aku melewati ayah dan ibuku yang sedang makan juga. Didalam keluargaku tidak ada yang namanya keharmonisan, yang ada hanya kekerasan berlandaskan kedisiplinan.
Setelah selesai makan, aku kembali belajar materi yang tadi pagi ktika aku dihukum, aku sadar guruku tidak peduli dengan keadaanku. Yang ia inginkan hanya nilai ujian yang bagus, sama seperti orang tuaku.
Aku memejamkan mata lalu
"Apakah dengan buku ini aku bisa merubah segalanya? Takdirku? Kehidupanku? Hampir setiap malam aku selalu membaca ratusan halaman buku pelajaran, namun kehidupanku tak kunjung berubah, dimana hasil dari buku yang telah aku baca ini? Mereka semua bermain curang ketika ujian. Persetanan pada dunia ini!"
Aku melempar buku buku itu dan berbaring kekasurku. Aku menangis didalam bantal agar tidak terdengar. Lalu aku tidur dan berharap besok akan menjadi lebih baik.. walau.. aku sadar itu tidak mungkin.